Jika Hidup Tidak untuk Dakwah
Terus ente mau ngapain?

www.alfiyandi.wordpress.com

Ente pergi pagi
Dengan semangat mencari duniawi
Jika angkot macet, langsung berganti sewa taksi
Agar harta buruan tidak beralih dari sisi

Ente pulang malam
Dengan jasad yang kelelahan
Nyampe di rumah mendekam sampai pagi datang

Lupakah engkau
Rasulullah saw bagaikan rahib di malam hari
Dan menjadi singa di siang hari
Sementara engkau
Tak peduli siang tak peduli malam
Yang penting dunia dalam genggaman

Sahabat cobalah engkau renungkan
Apa sih yang ingin kau gapai sampai harus membanting tulang
Apa sih yang ingin kau bangun hingga pagi datang
Apa sih yang ingin kau raih hingga tubuh begitu letih

Jujur saja, untuk urusan perutmu bukan. . ?
Buat beli martabak atau nasi. . ?
Masuk perut dan kemudian raib menjadi kotoran

Jujur saja, untuk urusan rumah tempat kau tinggal bukan. . ?
Buat beli keramik, AC ataupun busa. . ?
Dinikmati, rusak, ganti lagi tak berkesudahan

Jujur saja, untuk urusan kesenangan anak-anak yang kau rindukan bukan. . ?
Buat pakaian, mainan, ataupun poster-poster idaman. . ?
Dinikmati, menghilang dari pandangan

Jika engkau hidup hanya untuk itu semuanya
Maka harga diri ente
Nilainya sama dengan apa yang ente makan
Nilainya sama dengan apa yang ente keluarkan dari perut hitam
Nilainya sama dengan apa yang ente rindukan

Karena jasad ente tak ubahnya tembolok karung
Tempat penyimpanan semua makan yang kamu makan
Karena jasad ente tak ubahnya perekat
Tempat semua kesenangan dunia melekat

Sepekan, setahun, sewindu kau bangun sejuta pundi uang
Engkau lupa bahwa kelak yang kau bangun itu pasti kau tinggalkan
Engkau lupa bahwa tempat tinggalmu sesudahnya adalah istana masa depan

Tapi sahabat
Jika engkau hidup untuk dakwah
Tidak ada setitik harapan pun yang kelak dirugikan
Tiada seberkas amal pun yang tiada mendapat balasan

Tapi di dalamnya penuh ujian dan batu karang
Dan engkau harus yakin penuh akan janji Allah
Tapi di dalamnya tidak lekas kau dapatkan keindahan
Dan engkau harus yakin bahwa inilah jalan kebaikan

Sahabat
Janganlah terlena dengan kesenangan fana
Janganlah terlena dengan gemerlapnya dunia
Itulah yang Allah berikan sebagai hak para musyrikin di dunia
Tiada usah ente iri dan berpikir tuk hanyut bersamanya
Karena kau tahu kehidupan mereka sesudahnya adalah neraka
Dan mereka kekal di dalamnya

Sahabat
Jangan sia-siakan hidup di dunia
Bangun rumah dakwah
Jika kau diluaskan harta, kembalikan di jalan dakwah
Jika kau diluaskan waktu, hibahkan di jalan dakwah
Jika kau diluaskan tenaga, berikan untuk lapangnya jalan dakwah
Jika kau diluaskan pikiran, gunakan untuk merenungi ayat-ayat-Nya
Jika kau diluaskan usia, maksimalkan berikan yang terbaik untuk-Nya

Jangan jadikan dakwah sebagai kegiatan sampingan
Jangan jadikan dakwah sebagai hiburan
Jangan jadikan dakwah sebagai ajang gaul sesama teman
Jangan jadikan dakwah sebagai pengisi waktu luang
Jangan jadikan dakwah sebagai sarana memburu uang
Karena kelak yang kau dapatkan adalah jahanam
Sebagai balasan atas kemusyrikan yang kau jalankan

Sahabat
Jadikan dakwah sebagai ruh kalian di dunia
Jadikan dakwah sebagai rumah tinggal kalian di dunia
Jadikan dakwah sebagai tugas utama kalian di dunia
Jadikan bahwa hanya dengan dakwah diri kalian begitu bahagia
Jadikan bahwa tanpa dakwah kalian begitu menderita

Sahabat
Jalan dakwah inilah yang membedakan kita
Dengan para pendusta ayat-ayat-Nya
Dan jika engkau hidup di dunia ini tidak untuk tegakkan risalah-Nya Itu
artinya engkau pun sama dengan mereka
Yang lebih menyukai neraka ketimbang surga
Dan jika engkau hidup di dunia ini sebagai tujuan
Ingatlah bahwa tak lama lagi ruhmu bakal dicabut dari badan

Jika hidup tidak untuk dakwah
Trus ente mau ngapain


Wahai Kekasih – Brothers

Tika sendiri terkenang kembali
Pada dirimu oh kekasih
Dikau mutiara permata berharga
Kau satu tiada bandingannya


Kehadiranmu sinar gemerlapan
Cahaya murni kehidupan
Perginya dirimu satu kehilangan
Agung namamu di ingatan

Wahai kekasih yang disanjungi
Kasih sayangmu tak terperi
Kejujuranmu jua tulus budimu
Tersemat di dalam kalbu

Pelbagai rintangan cabaran mendatang
Diharungi dengan kesabaran
Ketabahan diri kekuatan iman
Azimat dalam perjuangan

Hadirmu kekasih bawa ketenangan
Kedamaian dan kebahgiaan
Pengorbananmu lambang kemegahan
Jasamu jadi sanjungan

Tenatnya dirimu di perbaringan
Umatmu sering di ingatan
Pelbagai rintangan cabaran mendatang
Diharungi dengan kesabaran
Ketabahan diri kekuatan iman

Azimat dalam perjuangan
Hadirmu kekasih bawa ketenangan
Kedamaian dan kebahgiaan
Wahai kekasih yang dirindui

Padamu janji dipatri
Sepenuh jiwa korban segala
Mengenangmu selamanya.



Wahai Zat yang menjadikan aku ada…
Terima kasih atas nikmat hidup sebagai makhluk yang bernama manusia, makhluk yang paling sempurna di antara semua makhluk-Mu. Kesempurnaan yang membuat kami berhak atas gelar “Khalifah fil Ardh”. Wahai Rabbku..hamba sadar bahwa gelar itu bukanlah tanpa konsekuensi. Sebanding dengan kesempurnaan dan kemuliaan yang kami peroleh dibanding makhluk lain yang Engkau ciptakan , maka amanah yang kami emban juga jauh lebih besar.  “Sejauh apa yang Engkau berikan terhadap hamba, Sejauh itu pula dituntut atas diri ini sebatas kemampuan hamba”. Yaitu penghambaan dan pengabdian hamba terhadap-Mu. Seperti yang Engkau firmankan dalam Al-Qur’an
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”(Adz-Dzariyat : 56)

Wahai Zat yang tiada Tuhan selain Engkau..
Engkau telah mengambil persaksian atas hamba dan seluruh manusia di bumi ini, saat hamba masih berada di dalam rahim ibu hamba. Sehingga diri ini dan seluruh manusia di muka bumi lahir sebagai orang yang bersyahadat, bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau (Allah). Kami terlahir dengan fitrah kami (Islam). Agar kami kelak tak mampu memungkiri sumpah yang telah kami ucapkan ini.
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",(Al-A’raaf : 172)

Sungguh kesaksian itu bukan persaksian yang tanpa arti. Saat hamba berikrar  bahwa Tiada tuhan selain Engkau (Allah), maka berlaku atas hamba seluruh syari’at-Mu, seluruh aturan-Mu yang wajib hamba taati. Dalam kalimat itu, sesungguhnya diri ini telah bersumpah untuk siap menanggung resiko apa pun dalam menegakkan agama-Mu, dan berjanji setia untuk melaksanakan segala perintah-Mu dan menjauhi larangan-Mu. Namun Wahai Zat yang Maha Ghaffar..meski hamba sering mengikrarkan kalimat itu setiap hari, tetapi diri ini masih sering alfa dalam menepati sumpah dan janji hamba kepada-Mu. Masih banyak kelalaian yang diri ini lakukan, masih banyak perintah-Mu yang sering hamba langgar, masih banyak larangan-Mu yang tampak indah di mata hamba, baik secara sadar maupun khilaf hamba..Allah..Ampunkanlah hamba..

Wahai Zat yang Maha Kasih..
Terima kasih atas nafas yang engkau berikan sampai detik ini, nafas kehidupan sebagai seorang muslim yang berakal  dan berilmu pengetahuan, yang dengannya aku mampu mentafakuri ayat-ayat qauliyah dan kauniyah-Mu di bumi dan di langit yang merupakan tanda-tanda kebesaran-Mu, dapat mengenal sifat-sifat-Mu sebagai upayaku untuk mengenal-Mu dan mendekatkan diri kepada-Mu, agar aku kelak dapat melihat wajah-Mu.  Wahai zat yang maha indah… Apakah lagi yang dirindukan selain dapat melihat wajah-Mu bersama Rasulullah dan orang-orang mu’min..?

Wahai yang Zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Mu..
Kini separuh usiaku telah pergi..Rasa gundah itu hadir dalam jiwa ini. Rasa malu terhadap-Mu, malu menyaksikan 13 tahun catatan amalan hamba setelah masa baligh hamba..Apa yang akan hamba bawa di hadapan-Mu bila Engkau mengambil nyawa hamba hari ini? Tak banyak yang hamba perbuat untuk menegakkan agama-Mu sampai di usia hamba yang ke-26 hari ini, pun hamba belum pernah bersakit-sakit menahan penyiksaan dalam mempertahankan kalimat-Mu seperti yang kini dirasakan saudara-saudaraku di Palestine, pun hamba belum bisa menjadi seorang istri yang sholehah seperti khadijah, yang mengorbankan sepenuh jiwa dan hartanya untuk-Mu dan Rasul-Mu, hamba juga belum mampu menjadi ibu yang baik bagi anak yang sedang dalam pengasuhan hamba, Lalu dimana nilai lebih hamba..?  Padahal diri telah bersumpah dan berjanji setia kepada-Mu dalam syahadat yang senantiasa hamba ikrarkan di dalam sholat hamba…Apa yang akan membawa hamba bisa bertemu dengan-Mu…?

Wahai zat yang maha mencintai..
Terima kasih atas kesempatan hidup yang Engkau berikan..Berikan kesempatan hamba tuk memperbaiki diri, berusaha menepati janji yang pernah hamba ikrarkan, jadikan hamba bagian dari orang-orang yang ikhlas dalam menjalankan amanah-Mu..Berikanlah welas kasih dan Ridho-Mu agar hamba bisa berjumpa dengan-Mu…<hilda